Gila! Lukisan Raden Saleh Bertemakan Pangeran Diponegoro Bernilai Rp 100 Miliar!

Pagi pengamat sejarah dan pecinta seni lukis atau rupa, tentunya tidak asing dengan nama Raden Saleh. Dia adalah seorang pelukis terkenal Indonesia di zamannya yang melalui karya-karyanya, Indonesia menjadi terkenal di dunia.

Dikatakan begitu karena lukisan yang dibuatnya merupakan suatu perpaduan gaya romantisme yang sangat populer di zaman dahulu dengan berbagai elemen yang menunjukkan kearifan budaya lokal, khususnya Jawa.

Dari pertama kali melukis hingga ajalnya menjemput pada tanggal 23 April 1880, banyak karya-karyanya yang melegenda dan dikoleksi oleh orang-orang terkenal dan terpandang, baik di Tanah Air ataupun di luar negeri, salah satunya adalah yang berjudul, “Penangkapan Pangeran Diponegoro.”

Lukisan yang dibuat pada 1857 yang pada tahun 2010 lalu sudah bernilai Rp 50 miliar, di tahun 2016 ini, gambar yang menampilkan saat Pangeran Diponegoro ditangkap Pemerintah Belanda itu diperkirakan sudah mencapai Rp 100 miliar.

[Image Source detik.com]
[Image Source detik.com]
Sayangnya, ide lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” itu adalah murni dari Raden Saleh karena awalnya pria yang masih memiliki darah Jawa ningrat tersebut berasal dari lukisan seorang pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman.

Pieneman melukiskan keadaan ketika Pangeran Diponegoro dikhianati Belanda dan tertangkap saat ingin mengakhiri Perang Jawa di tahun 1830. Dikarenakan Pieneman tidak pernah datang langsung ke Hindia Belanda atau nama lain dari Indonesia pada saat penjajahan Belanda serta hanya mendengar penuturan dari beberapa pihak saja, maka apa yang tertuang dalam kanvasnya tidak seperti yang terjadi seperti aslinya.

Karena hal itulah, Raden Saleh yang masih berkibar rasa nasionalisme dan patriotismenya itu keberatan akan munculnya lukisan dari Pieneman. Oleh karenanya, berdasarkan lukisan Pieneman, Raden Saleh melukis ulang menurut versi dia.

Perbedaan lukisan Pieneman dan Raden Saleh adalah pada versi sang pelukis Belanda itu, Pangeran Diponegoro diperlihatkan menghadap kanan dengan raut wajah lesu dan kepala tertunduk, serta para pengikutnya digambarkan seperti orang Arab.

Sedangkan pada versi Raden Saleh, Pangeran Diponegoro terlihat menghadap kiri dengan gagahnya serta sedang menunjukkan rasa marah karena telah dikhianati Belanda. Dia juga menggambarkan bahwa para pengikut Pangeran Diponegoro mengenakan pakaian khas Jawa dan tanpa membawa senjata karena pada waktu sebelum perjanjian terjadi, pihak Belanda meminta agar mereka datang dengan damai dan tanpa senjata.

Dikarenakan lebih cenderung seperti kenyataannya, maka lukisan Raden Saleh-lah yang lebih terkenal dan dimiliki oleh Raja Williem III di Den Haag sebagai hadiah. Sayangnya, lukisan tersebut baru kembali dan dipajang sebagai warisan budaya Indonesia dari Belanda sekitar tahun 1978-an.

Untuk menjaga keutuhannya karena umurnya yang memang sudah sangat tua, Pemerintah Indonesia pernah melakukan restorasi atas lukisan tersebut. Proses restorasinya ditangani langsung oleh pakar dari Susanne Erhards, ahli restorasi lukisan dari kantor biro restorasi Köln Gruppe, Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *