Kisah Cinta Romantis Tapi Tragis Ini Mampu Ubah Sejarah Nusantara

Cinta antara pria dan wanita memang bisa mendatangkan dampak. Entah dampak yang kecil maupun yang besar. Misalnya saja jika kisah cinta itu dialami oleh para raja, tentu akan berpengaruh bahkan bisa mengubah sejarah di kemudian hari.

Sebelum menjadi negara seperti sekarang ini, Nusantara diisi oleh kerajaan-kerajaan kecil yang saling berebut kekuasaan dan wilayah termasuk soal cinta. Penasaran dengan kisah cinta romantis terkenal di zaman dulu yang melegenda hingga sekarang dan konon katanya bisa mengubah sejarah negeri ini? Berikut ulasan selengkapnya.

1. Ken Arok dan Ken Dedes

Ken Arok adalah pendiri Kerajaan Singhasari. Berdirinya kerajaan di tanah Jawa tersebut juga tak lepas dari kisah cinta romantis yang berakhir tragis. Kenapa Bisa begitu? Ken Arok sang pendiri Kerajaan Singhasari pada akhirnya tewas terbunuh karena perebutan kekuasaan. Arok mulanya hanyalah pemuda biasa yang kemudian mengabdi pada Tunggul Ametung, penguasa Tumapel.

Kisah Cinta Ken Arok dan Ken Dedes [image source]
Kisah Cinta Ken Arok dan Ken Dedes [image source]
Ambisinya semakin membuncah tetkala ia melihat bagaimana cantiknya Ken Dedes istri dari Tunggul Ametung. Dengan bantuan keris Empu Gandhring, Arok melakukan kudeta dan merebut Tumapel sekaligus memperistri Ken Dedes. Kisah Cinta Ken Dedes dan Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi kemudian berakhir tragis setelah Arok dibunuh oleh anak tirinya yaitu Anusapati. Di kemudian hari pergantian kekuasaan Kerajaan Singhasari juga diwarnai dengan pertumpahan darah.

2. Ken Arok dan Ken Umang

Singhasari bukan hanya menjadi saksi percintaan Arok dan Ken Dedes yang memiliki empat orang anak dari perkawinan mereka yaitu Mahisa Wong Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya dan Dewi RImbu, Ken Arok juga punya cinta lain yang tak kalah melegenda dan di kemudian hari karena cinta tersebut sejarah Singhasari juga ikut berubah.

Patung Ken Arok [image source]
Patung Ken Arok [image source]
Ken Arok menyukai Ken Umang tentu percintaan mereka juga tak luput dari rasa  kasih dan cemburu karena di samping Ken Arok masih ada Ken Dedes yang jadi pemaisuri. Dari Ken Umang, Ken Arok juga memiliki empat orang anak yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan wergola dan Dewi Rambi. Buah Cinta Ken Umang dan Ken Arok yaitu Tohjaya di kemudian hari melancarkan kudeta dan membunuh anak Ken Dedes dan Tumggul Ametung yang saat itu sedang bertahta sebagai Raja Singhasari.

3. Dyah Pitaloka Dan Prabu Hayam Wuruk

Diceritakan dalam pararaton bahwa Dyah Pitaloka adalah putri cantik dari Kerajaan Sunda. Bahkan konon katanya, Dyah Pitaloka menyaingi kecantikan Ken Dedes, Ibu para raja Jawa. Menjadi putri kerajaan, Sudah pasti membuat wanita bernama Dyah Pitaloka Citraresmi harus siap dengan perjodohan demi kepentingan politik. Saat itu ia dijodohkan dengan Prabu Hayam Wuruk yang sejak awal sudah menaruh hati pada sang putri.

Patung Patih Gajah Mada [image source]
Patung Patih Gajah Mada [image source]
Rombongan dari Sunda mengantarkan Dyah Pitaloka untuk dinikahkan dengan Prabu Hayam Wuruk. Tapi ketika Mereka sampai di wilayah yang bernama Bubat, Patih Gajah Mada justru menyulut perselisihan karena ingin menaklukkan Sunda di bawah kemaharajaan Majapahit. Raja Sunda yang merasa dikhianati akhirnya melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Dyah Pitaloka, demi menjaga wibawa kerajaannya melakukan bunuh diri. Tewasnya sang putri membuat Prabu Hayam Wuruk Berduka. Bahkan karena pertempuran di Bubat tersebut, hubungan antara Majapahit dan Sunda jadi pecah dan tak pernah pulih.

Begitu juga dalam istana Majapahit, Gajah Mada yang dianggap telah bertindak ceroboh bahkan membuat wanita yang dicintai Prabu Hayam Wuruk Tewas juga menghadapi perselisihan karena Sang Raja sudah tidak percaya lagi dengannya.

Itulah beberapa kisah cinta zaman kerja yang mengubah sejarah Nusantara di Kemudian hari. Meski hingga saat ini kebenaran cerita itu masih berdasar kitab peninggalan kerajaan dan dikenang sebagai Legenda, semoga tetap bisa dijadikan pelajaran dan menambah wawasan kita.