Kisah Gombloh, Penyanyi Papan Atas Indonesia Sahabat Para WTS

Gombloh mungkin jadi sosok yang sudah banyak dilupakan orang. Namun, bagi musisi yang jiwanya tulen seniman, Gombloh takkan mudah untuk tidak diingat. Nyentrik, nakal, tapi begitu baik hati dan dedikasinya kepada musik sangat hebat. Tanpa Gombloh, musik-musik tahun 80an takkan pernah seenak itu.

Gombloh adalah potret musisi yang jarang ada sekarang. Sangat terkenal, tapi gampang sekali berbaur dengan orang-orang pinggiran. Bahkan WTS sekalipun. Tidak hanya berbaur, Gombloh adalah pahlawan bagi orang-orang seperti ini. Tak ayal kematiannya pun adalah sesuatu yang sangat disesalkan banyak orang. Berikut adalah potongan-potongan riwayat sang musisi legend yang kisahnya sangat menginspirasi.

Pemuda Cerdas Namun Lebih Cinta Musik

Gombloh terlahir di Jombang dari rahim seorang ibu bernama Tatoekah atau istri dari ayahnya yang bernama Slamet. Masa kecilnya biasa, tapi satu hal yang mungkin tidak diketahui banyak orang, Gombloh pintar secara akademis. Pendidikan 12 tahun ditempuhnya dengan mulus. Bahkan ia juga sanggup masuk ITS di jurusan arsitektur.

[image source]
Pemuda Cerdas Namun Lebih Cinta Musik [image source]
ITS kala itu bagai neraka bagi Maba yang biasa-biasa. Sangat ketat disiplin dan selektif. Gombloh jelas masuk, tapi satu hal kekurangannya, ia tidak suka segala sesuatu yang mengikat dan saklek. Dengan bondo nekat akhirnya ia tak menggubris kuliah dan meneruskan karir di bidang musik yang sudah lama digelutinya.

Potret Kehidupan Malam Gombloh

Sebelum menyinggung yang baik-baik, sepertinya kita harus tahu dulu sisi minus dari tokoh satu ini. Bukan gibah, ini bisa jadi pelajaran bagi banyak orang. Ya, Gombloh dikenal dengan gaya hidup malamnya yang sangar. Banyak cerita-cerita yang mengatakan ia gemar sekali minum-minuman keras, merokok sampai bermain dengan banyak wanita.

[image source]
Potret Kehidupan Malam Gombloh [image source]
Ada catatan pula yang mengatakan Gombloh masuk dalam sebuah gengster di Surabaya. Gegars Otack namanya. Sebenarnya ini bukan seperti mafia-mafia, melainkan hanya sekumpulan pemuda yang suka nongkrong saja, meskipun perkelahian adalah hal yang lumrah pula. Tapi, dari sini Gombloh mendapatkan semua bekal musiknya.

Radio Amatir dan Lemon Trees Anno 69

Kuliah sudah bukan bidangnya, anggap Gombloh. Ia pun fokus bermusik saja. Pertama-tama ia membangun sebuah radio amatir yang banyak memutar lagu-lagu anak muda. Nah, di momen radio ini akhirnya terciptalah lagu Di Radio yang fenomenal itu, cerita kenapa sampai dibikin lagu, persis sama seperti lirik lagunya, ya gara-gara wanita.

[image source]
Radio Amatir dan Lemon Trees Anno 69 [image source]
Radio tetap jalan, tapi Gombloh ingin sesuatu yang beda. Akhirnya ia mendirikan band Lemon Trees Anno 69. Anggotanya bukan para amatir, melainkan para ahli musik. Sebut saja Franky Sahilatua, Leo Kristi, dan Mus Mujiono. Band ini bisa dibilang sukses dan berhasil mewarnai musik Indonesia lebih variatif lagi.

Kebaikan Gombloh yang Fenomenal

Sejak dulu Gombloh dikenal sangat royal kepada orang-orang sekitarnya. Sebelum terkenal, Gombloh sudah bolak balik manggung. Nah, biasanya uang hasil manggung ini dihabiskannya sekaligus. Entah menraktir teman, atau bantu siapa pun yang butuh. Uangnya selalu habis untuk hal-hal seperti ini, padahal ia juga tidak punya sisa untuk keesokan harinya.

[image source]
Kebaikan Gombloh yang Fenomenal [image source]
Makin terkenal, bukan makin bikin Gombloh pelit, justru makin menggila sifat dermawan Gombloh. Tak ada bedanya, Gombloh jalanan atau Gombloh yang sudah nampang di TV. Uang-uang pun masih mengucur deras dari kantongnya ke perut teman-temannya atau mereka yang butuh untuk bayar hutang. Bahkan, ada satu kebaikan yang mungkin sangat jarang dilakukan banyak orang. Gombloh membelanjakan uangnya untuk membeli bra dan dibagi-bagikan ke banyak WTS di Surabaya.

Kematian Gombloh dan Penghargaan Besar

Gemar tinggal di jalanan dan kehidupan malam, serta kebiasaan-kebiasaan yang merusak badan, akhirnya membuat Gombloh menyerah dengan paru-parunya. Tanggal 9 Januari 1988, Gombloh yang boleh dibilang masih sangat muda (39 tahun) akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

[image source]
Kematian Gombloh dan Penghargaan Besar [image source]
Kematian ini pun disesalkan karena sosok Gombloh yang baik hati, sudah dianggap seperti pahlawan bagi orang-orang Surabaya. Lalu atas nama solidaritas dan kebaikan yang pernah ada, patung Gombloh dari perunggu pun didirikan pada tahun 1996. Tak hanya itu, di Hari Musik Indonesia tahun 2005, Gombloh diberi penghargaan Nugraha Bhakti Musik.

Karya Gombloh Komplit dan Jarang Ada

Fisik Gombloh boleh ditelan Bumi, tapi karya-karyanya akan selalu mengabadikan namanya. Selain di Radio tadi, banyak lagu Gombloh yang terkenal dan sangat meng-influence. Misalnya Kebyar-Kebyar yang pasti dinyanyikan ketika 17 Agustus sebagai semangat pengobar nasionalisme. Lalu ada pula yang berjudul Lestari Alamku di mana lewat lagu ini ia melakukan kritik sosial tentang lingkungan yang sudah mulai rusak.

[image source]
Karya Gombloh Komplit dan Jarang Ada [image source]
Mulai dari cinta, lagu nasional, serta tembang kritik-kritik sosial, semua pernah dibikin oleh Gombloh. Kita harus akui, sudah jarang lagi musisi yang karyanya komplit seperti ini. Di samping itu, tujuan Gombloh dari musik yang dikejarnya bukanlah komersil, melainkan ingin memberikan nilai-nilai dan pembelajaran.

Inilah sekelumit legenda musik Indonesia yang terlupa, Gombloh. Sudah lama tiada, namun apa yang ditorehkannya di musik menjadi hal yang masih diingat oleh banyak orang. Apresiasi tertinggi patut kita berikan kepada pria dengan panggilan Cak Su ini. Lewatnya, banyak hal-hal baik tercipta dan jadi pembelajaran untuk kita akan sosok musisi baik hati yang jarang ada.