Yuk Intip Kisah Asmara Bung Hatta di Sini!

Bung Hatta dikenal sebagai bapak proklamator bangsa. Bersama Bung Karno, keduanya berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Selama bersama-sama, Bung Karno dan Bung Hatta saling bahu-membahu untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Puncaknya terjadi di tanggal 17 Agustus 1945 di mana Bung Karno membacakan naskah proklamasi didampingi Bung Hatta.

Sebagai seorang pejuang, Bung Hatta selalu asyik sendirian. Dengan kata lain, Bung Hatta tidak ada pendamping hidup alias menjomblo. Namun jangan samakan dengan jomblowan dan jomblowati zaman sekarang ya. Kehidupan jomblo Bung Hatta tidak diisi dengan status galau di facebook atau twitter, melainkan diisi dengan perjuangan menuju kemerdekaan.

Sampai di sini, tak banyak yang tahu bagaimana sesungguhnya kehidupan asmara Bung Hatta. Tak seperti kisah asmara Bung Karno dengan hingar-binganya, kehidupan asmara Bung Hatta justru adem ayem tak tersentuh keramaian publik. Penasaran bagaimana alur ceritanya? Yuk intip di sini!

Bung Karno Didapuk Menjadi Mak Comblang

Bicara perkara cinta, Bung Karno dan Bung Hatta layaknya dua hal yang saling berlawanan. Sudah menjadi rahasia umum jika Bung Karno banyak mendapatkan istri. Namun tak demikian dengan Bung Hatta. Untuk urusan wanita, Bung Hatta tak jempolan serupa Bung Karno. Buktinya, sampai Indonesia merdeka pun Bung Hatta masih belum memiliki tambatan hati. Padahal di kala yang sama, Bung Karno telah mempersunting 3 orang istri.

[1]
Bung Karno Didapuk Menjadi Mak Comblang [ Image Source ]

Untuk kawannya itu, tampaknya Bung Karno tak sampai hati. Kemampuan lain yang Bung Karno pun jarang pergunakan hendak diperlihatkan. Apa itu? Rupanya selain jago menaklukkan hati perempuan, Bung Karno juga mahir menjadi mak comblang. Rachmi, anak Abdul Rachim, menjadi target operasi. Bung Hatta telah jatuh hati dan Bung Karno tinggal berkunjung ke orang tua Rachmi hendak melamarkannya untuk dinikahi Bung Hatta. Nah, alhasil keduanya sampai di pelaminan dan langgeng sampai akhir. Tentu Bung Hatta harus banyak berterima kasih kepada Bung Karno. Selain berbakat memimpin bangsa, ternyata Bung Karno juga jago memainkan perannya sebagai mak comblang.

Romantisnya Pernikahan Bung Hatta Menurut Versi Bung Hatta Sendiri

Kala itu usia Bung Hatta dan Rachmi terpaut cukup jauh, sekitar 24 tahun. Bung Hatta berusia 43 tahun, sedangkan 19 tahun usia Rachmi. Perlu diketahui sebelumnya, Bung Hatta pernah berucap tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Dan janji itu ditepatinya sebagai seorang lelaki, yakni dengan menikahi Rachmi selepas Indonesia merdeka. Bung Hatta dan Rachmi menikah di tanggal 18 November 1945.

[2]
Romantisnya Pernikahan Bung Hatta [ Image Source ]

Tak seperti pasangan lain yang begitu berbunga-bunga saat di pelaminan, Bung Hatta menghadiahkan mahar hanya sebuah buku untuk Rachmi. Isinya jangan dikira berupa bait-bait puisi orang yang sedang jatuh cinta ya. Buku yang dikarang Bung Hatta itu tak disangka justru berisi mengenai pemikiran-pemikiran Yunani. Di dalamnya dibahas tentang pemikir Sokrates, Plato, Aristoteles serta pemikir Yunani lainnya. Itulah buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya selama pengasingan di Digul tahun 1934. Jika menilik isinya, tentu bukan termasuk buku romantis bukan? Suatu hal yang bahkan mungkin tak dipikirkan orang lain ketika itu untuk dijadikan mas kawin! Namun selaiknya kita mengamini seromantis itulah Bapak Proklamator kita.

Dari Kikuknya Hingga Matangnya Bung Hatta Sebagai kepala Keluarga

Setelah menikah, sampailah Rachmi untuk melahirkan buah hati. Sebagai seorang calon bapak agaknya Bung Hatta masih kikuk bagaimana menghadapi persalinan istri. Sewaktu Rachmi melahirkan putri pertama mereka, beliau tiba-tiba masuk ke ruang bersalin dengan membawa sesuatu. Bukan selendang, baju, atau pakaian bayi yang dibawanya. Tapi Beliau membawa Sandwich untuk sang istri. Bung Hatta beranggapan dengan memakan Sandwich bisa mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Meskipun demikian cara Hatta untuk menenangkan sang istri, persalinan itu berjalan dengan lancar. Dan lahirlah putri pertama mereka yang kelak diberi nama Meutia Hatta.

page
Hingga Matangnya Bung Hatta [ Image Source ]

Di waktu yang lain, saat jalan berdua sebagai seorang suami-istri, Hatta berusaha menunjukkan sisi romantisnya. Hatta selalu memberikan tempat yang terbebas dari sengatan sinar matahari langsung bagi Rachmi. Agaknya Hatta selalu berusaha menghindarkan orang yang disayanginya itu dari kepanasan.

Selain itu, Bung Hatta juga termasuk pria yang memperhatikan penampilan istri. Hatta tak ingin Rachmi kelihatan gemuk. Namun jika Hatta mengungkapkan langsung keinginannya itu, tentu Rachmi bisa mengeluarkan sisi feminimnya sebagai seorang wanita. Lantas Hatta tak kehilangan akal. Hatta pun mengutarakan keinginannya itu kepada sang adik ipar, Raharti, supaya mengingatkan kakaknya agar menjaga bobot tubuhnya. Sampai di sini Hatta sudah pandai dalam menghadapi perasaan wanita. Bila saja Hatta menyampaikan kehendaknya itu secara terang-terangan, bisa saja Rachmi akan naik darah mendengarnya.

Bung Hatta, Kesetiaan dan Kesederhanaan Keluarganya

Selama menjalani bahtera rumah tangga, tak terdengar satu pun selintingan miring dari kehidupan Hatta dan Rachmi. Sebagai seorang istri, Rachmi adalah saksi perjalanan senang dan susah seorang Bung Hatta sesudah merdeka. Saat beranjak dari Jakarta ke Yogyakarta, saat Belanda kembali berhasil menduduki Yogyakarta, termasuk saat suami ditangkap dan diasingkan ke Bangka, Rachmi selalu setia menyertai.

[4]
Kesetiaan dan Kesederhanaan Keluarganya [ Image Source ]

Selepas mengakhiri jabatannya sebagai wakil presiden, Bung Hatta dan keluarga hidup pas-pasan. Jika menginginkan suatu hal, keduanya sampai harus menabung lebih dahulu, termasuk saat Hatta hendak membeli sepatu Bally dan Rachmi membeli mesin jahit yang diinginkannya. Namun dengan kehidupan itu, keduanya saling bahu-membahu membangun bahtera. Mereka hidup dengan damai bersama ketiga putrinya, jauh dari kehidupan politik yang dulunya begitu lekat dengan sang ayah.

Melewati 35 tahun pernikahan, kisah Bung Hatta dan Rachmi bisa dijadikan teladan bagi siapapun. Kisah cinta keduanya bukan saja mengajarkan bagaimana membangun keluarga, tapi juga bagaimana pengorbanan sebuah keluarga untuk kepentingan negara. Benar kata orang, di balik lelaki hebat selalu ada wanita hebat yang selalu menyertainya.