Pengantin Jeren! Perjodohan di Gili Iyang Madura Yang Megah Nan Meriah

Indonesia, punya keragaman budaya yang tak terhitung jumlahnya. Dari ragam bahasa, masakan, hingga adat istiadat, semuanya unik dan patut dilestarikan. Seperti tradisi unik di pulau indah yang masuk Kabupaten Sumenep, Madura ini.

Gili Iyang, nama pulau di gugusan timur Madura itu. Mungkin namanya belum familiar di telinga masyarakat Indonesia. Namun keindahannya mampu menarik para traveller untuk berkunjung. Disebut sebagai pulau dengan kadar oksigen tertinggi di dunia, Gili Iyang ramai diserbu wisatawan yang ingin menikmati sejuknya udara di tempat ini. Ada sebuah tradisi perjodohan yang masih eksis dan menarik untuk disimak dari pulau ini. Apa itu? Yuk kita ikuti pembahasan berikut!

Pengantin Jeren, Perjodohan Yang Menggunakan Kuda

Dinamakan pengantin Jeren, karena kedua mempelai diwajibkan menaiki kuda sebelum duduk di pelaminan. Kata Jeren berarti kuda, yang diambil dari bahasa Madura. Dalam prosesinya, mempelai akan didandani layaknya raja dan ratu, lalu diarak dengan diiringi musik karawitan. Arakan pengantin pun lengkap dengan payung renda yang dibawa pengawal menuju pelaminan. Prosesi arak-arakan menggunakan kuda ini merupakan poin penting yang tak bisa dilewatkan dalam tradisi pengantin Jeren.

[1]
Pengantin Jeren [ Image Source ]

Tapi tahukah Anda, jika tradisi pengantin Jeren ini ternyata bukanlah acara pernikahan?? Ya, prosesi hanya acara pertunangan yang baru mengikat dua mempelai namun belum mengesahkan sebagai suami istri. Tradisi ini sudah menjadi budaya di Gili Iyang, dimana perjodohan antara muda-mudi kerap dilakukan di usia muda. Bahkan kadang kala ada keluarga yang menjodohkan saat putra-putri mereka masih dalam kandungan. Jika lahir dengan jenis kelamin yang sama, perjodohan akan gagal dan biasanya dilimpahkan kepada adiknya kelak.

Perjodohan tersebut bersifat mengikat, namun masih bisa dibatalkan di tengah jalan. Masing-masing pengantin masih bisa menikah dengan orang lain jika menemukan pasangan yang lebih tepat setelah dijodohkan. Hal ini banyak terjadi, terlebih dengan usia pengantin yang masih muda membuat mereka punya banyak waktu untuk mempertimbangkan kembali pasangan yang akan mereka nikahi.

Prosesi Yang Masih Saklek Dari Dulu

Meski zaman telah berubah, namun tradisi pengantin Jeren ini masih tetap lestari dan mengikuti aturan dari dulu. Termasuk dalam pemilihan kuda dan prosesi lainnya. Kuda yang dipilih bukan kuda sembarangan, harus gagah dan bisa bergerak mengikuti irama musik yang dihasilkan kelompok karawitan saat arak-arakan. Dalam perjodohan pengantin Jeren, akan dimulai dengan tahap ngen-angenan. Dimana orang tua calon mempelai laki-laki mencari calon istri yang kelak disandingkan di pelaminan dengan putranya. Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan. Bisa menggunakan cara pangade, atau menghimpun informasi mengenai calon pengantin perempuan mulai dari latar keluarga, asal-usulnya hingga latar pendidikan.

[2]
tahap ngen-angenan [ Image Source ]

Selain itu, pendekatan dengan perjodohan langsung pun kerap dilakukan oleh kedua orang tua. Mereka akan langsung meminta ijin dan melakukan diskusi untuk menjodohkan putra putrinya. Masyarakat Gili Iyang masih menganggap perjodohan sejak dini sebagai kewajiban sosial dalam lingkungannya. Kalau sampai terlambat atau tidak segera mengumumkannya, mereka akan mengaggap sang anak tidak laku.

Acara Pertunangan Yang Kelewat Meriah

Meski hanya acara perjodohan, kemeriahannya melebihi pesta pernikahan. Dan hal inipun berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Disebutkan rata-rata pengeluaran untuk sekali tradisi berkisar antara 75 hingga 150 juta rupiah. Biaya yang cukup fantastis untuk acara pertunangan. Harga ini banyak dihabiskan pada biaya hiburan yang memang menjadi ciri dari tradisi pengantin Jeren.

[3
Acara Pertunangan [ Image Source ]

Selain penyewaan kuda dan musik karawitan, tuan rumah biasanya menampilkan wayang atau ludruk untuk hiburan tamu yang hadir. Kelompok ludruk yang biasa ditanggap selama 2-3 hari rata-rata ongkosnya Rp 17 juta hingga Rp 20 juta. Belum lagi hewan ternak yang dibuat sebagai suguhan, minimal menyediakan 2-3 ekor sapi dalam sekali perayaan. Seluruh biaya tersebut akan dilimpahkan kepada keluarga pihak perempuan. Sedangkan keluarga laki-laki hanya akan membantu seikhlasnya saja.

Tetangga Pun Ikut Repot

Tak hanya tuan rumah, para tetangga disekitar sang punya hajat juga ikutan repot. Selain memberi sumbangan tenaga, setiap keluarga dalam satu desa diwajibkan menyumbang satu karung beras untuk keluarga pengantin. Beras ini akan ditimbang dan harus sesuai takaran yang disepakati. Jika kurang sedikit saja, akan segera diumumkan lewat pengeras suara masjid.

[4]
Tetangga Pun Ikut Repot [ Image Source ]

Meski terlihat membebani, hal ini dasarnya untuk saling membantu ketika salah seorang dari lingkungan tersebut memiliki hajat. Sehingga ketika ada tradisi pengantin Jeren di keluarga lainnya, mereka akan membalas dengan mengganti karung beras yang diberikan sebelumnya.

Mulai Beradaptasi Dengan Aturan Pemerintah

Adat istiadat ini memang masih terjaga hingga kini. Namun demikian ada beberapa hal yang mulai diubah untuk menyesuaikan dengan perkembangan saat ini. Salah satunya batas usia. Dahulu, pengantin Jeren tidak mempermasalahkan batas usia untuk menjadi seorang mempelai. Bahkan anggapan semakin muda semakin baik. Namun seiring dengan pelarangan pernikahan dini oleh negara, batas usia pernikahan pun mulai dinaikkan.

[5]
Beradaptasi Dengan Aturan Pemerintah [ Image Source ]

Untuk perempuan kini minimal di usia 16 tahun, sedangkan laki-laki minimal 18 tahun. Pemerintah pun terus melakukan sosialisasi untuk memberi penjelasan terhadap pelarangan pernikahan dini. Khususnya pada tokoh masyarakat dan Modin yang bertugas menikahkan warga Gili Iyang.

Tradisi pengantin Jeren, akan menjadi satu daya tarik tersendiri pada pulau Gili Iyang. Dan diharapkan, budaya tersebut akan terus lestari dan menjadi karakter masyarakat lokal Gili Iyang. Bagaimana menurutmu?