Sadis! Dulu Manusia Dimasukkan Kandang dan Dijadikan Tontonan

Barangkali kita sudah biasa menyaksikan satwa yang dipelihara di kebun binatang. Selain untuk merawat binatang dengan baik, juga bisa dijadikan media pembelajaran bagi pengunjung, kususnya anak-anak.

Tapi, bagaimana jika yang dipelihara dalam kandang itu justru manusia? Bagaimana perasaan Anda jika yang dipertontonkan adalah bagian dari kita? Anda harus percaya jika hal itu benar-benar pernah terjadi di tahun 1950an.

Ota Benga Yang Dipaksa Menggendong Orang Utan

Pada tahun 1906, pria yang berasal dari Kongo ini dipertontonkan di Kebun Binantang Bronx. Di sini, ia dipaksa menggendong orang utan dan kera. Pria ini benar-benar dipermalukan dengan papan nama bertuliskan, “Usia 23 tahun. Tinggi 4 kaki 11 inci, dengan bobot 103 pon. Dibawa dari Sungai Kasai, Kongo, oleh Dr. Samuel P. Verner. Dipamerkan setiap siang selama September.”

Ota-Benga[ Image Source ]

Ota Bukan hanya dipaksa menggendong orang utan dan kera. Ia juga diharuskan membuat mukanya terlihat lucu untuk menghibur penonton. Kegiatan keterlaluan ini terus berlangsung hingga mendapat kritik pedas dan pameran ini pun dihentikan.

Sarah Baarman Dipertontonkan Layaknya Binatang

Perlakuan tak kalah sadis juga menimpa Sarah Baartman, seorang gadis berusian 20 tahun asal Afrika Selatan. Pada tahun 1810, gadis malang ini terpedaya oleh iming-iming jadi terkenal dan kaya ini mengikuti ajakan seorang pedagang binatang. Namun sayangnya, Sarah justru dipertontonkan layaknya binatang.

Saartjie1[ Image Source ]

Sarah dipertontonkan nyaris tanpa sehelai benang. Ia akhirnya meninggal dengan kondisi yang mengerikan. Tubuhnya menyerupai belulang. Namun tak sampai di sana perlakuan tidak adil yang diterimanya, organ vital gadis ini justru diawetkan dan disimpan dalam Museum Manusia di Paris hingga tahun 1974. Pada tahun 2002, atas kebaikan Presiden Nelson Mandela, sisa-sisa jasadnya bisa dikembalikan dengan layak.

Manusia Menjadi Peliharaan

Pada tahun 1950an, orang-orang Afrika banyak yang dipertontonkan di Jerman. Tema yang diambil ini adalah ‘Hiburan Rakyat’ dan ini terjadi hingga abad ke 20.  Kebun Binatang Cincinnati di Ohio, AS telah memelihara 100 suku asli Amerika di sebuah desa buatan.

African-girl-in-human-zoo[ Image Source ]

Perlakuan tidak manusiawi ini harus diterima suku Amerika hingga bertahun-tahun. Gadis kecil ini hanya salah satu yang bukti kesadisan orang zaman dulu. Tak hanya menjadi bagian dari kebun binatang, para manusia juga diikut sertakan dalam sirkus keliling.

Penari Asal Indonesia Juga Dipertontonkan

Yang lebih mengejutkan adalah acara Parisian World Fair di tahun 1931. Para penari yang berasal dari Indonesia juga dipertontonkan. Namun kali ini bukan sebagai pameran seni, namun sebagai bukti keabadian kaum penjajah terhadap penduduk yang dijajahnya.

Paris-World-Fair[ Image Source ]

Acara ini dihadiri hingga 34 juta orang selama 6 bulan. Di zaman dulu, hal ini justru sangat menarik dijadikan hiburan. Penyelenggara dan penonton rupanya memiliki kesadisan yang sama.

Melakukan Olimpiade Biadab

Pada tahun 1904, para suku asli Amerika dikumpulkan untuk melakukan olimpiade ‘biadab’. Suku ini yang akan berkompetisi dengan suku-suku lain seperti Jepang, Timur Tengah dan Afrika. Ide gila ini tercetus hanya untuk membuktikan kaum mana yang lebih atletis.

Savage-Olympics-Exhibition[ Image Source ]

Rupanya acara ini masih diminati penonton. Lantas, siapa sebenarnya yang lebih biadab? Para manusia yang melakukan pertunjukan atau penonton?

Masih sulit dibayangkan perlakukan orang di zaman dulu. Manusia disamakan dengan binatang. Dari lima fakta miris di atas, mana yang menurut Anda paling sadis?