Orang-Orang yang Berperan Terhadap Perkembangan Akhlaq Islami Generasi Muda

keluarga muslim

Indonesia adalah sebuah negara berkembang dengan penduduk mayoritas memeluk agama Islam. Terkenal memiliki kekayaan alam dan budaya yang sungguh luar biasa beraneka ragam. Tak heran jika Indonesia menjadi sebuah sasaran empuk beberapa negara untuk menguasainya, seperti zaman dahulu ada Belanda dan Jepang, serta beberapa negara seperti Inggris dan Portugis, yang menduduki Indonesia. Dan sekarang, di zaman modern ini, jangan pernah berpikir bahwa kita sudah benar-benar merdeka, karena sesungguhnya ancaman musuh-musuh yang berusaha menguasai Indonesia secara pelan-pelan dengan cara licik, bahkan berusaha menggulingkan Islam di Indonesia semakin gencar.

 Salah satu yang menjadi sasaran perusakan bangsa Indonesia, tentunya adalah generasi mudanya. Generasi muda yang kelak akan menjadi penerus atau pembawa tongkat estafet bangsa, dirusak pelan-pelan dengan berbagai hal yang membuat mereka terlena. Sehingga terjadilah degradasi akhlaq dan moral pada generasi muda Indonesia sekarang. Maraknya kasus pemerkosaan, kekerasan antar pelajar, hamil di luar nikah, pembunuhan, bully-ing, dan berbagai tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak muda, menjadi sebuah bukti bahwa generasi muda Indonesia sekarang semakin kritis.

Nah, melihat fenomena yang terjadi ini, tentunya ada beberapa orang yang menjadi faktor pendorong terbentuknya atau justru rusaknya akhlaq Islami dan moral para generasi muda sekarang. Siapa saja itu? Berikut ulasannya:

1. Orang Tua

Yang menjadi faktor utama tentunya adalah orang tua. Ketika seorang anak tumbuh besar dan berperan di dalam masyarakat, pasti yang ditanya terlebih dahulu tentang si anak adalah “Anak siapa itu?” entah si anak menjadi baik atau buruk. Ini merupakan sebuah keniscayaan, karena menjadi apa seorang anak, yang utama adalah bagaimana orang tua mendidiknya.

keluarga muslim
keluarga muslim [via]
Ketika di masa ini ada beberapa anak yang lebih suka dengan pergaulan bebas dan melakukan kenakalan yang melebihi batas etika, maka yang perlu dipertanyakan adalah seberapa ketat orang tua mendidik dan menjaganya. Karena anak tak hanya butuh sosok orang tua yang galak dan keras, namun memiliki ketegasan dengan disertai kelembutan. Dalam Islam, Rasulullah SAW selalu mengajarkan untuk berlaku lembut pada siapapun. Karena Islam mencintai kelembutan.

Umar bin Khattab ra contohnya, Umar sebelum masuk Islam adalah sosok yang terkenal bengis dan tak ragu membunuh siapapun. Namun begitu masuk Islam, dia menjadi sosok yang amat lembut dan penuh belas kasihan, begitupun harusnya yang kita contoh sebagai orang tua. Karena anak adalah amanah yang dititipkan Allah untuk kita jaga dengan baik, jangan sampai kita menjadi orang tua yang malah bangga anak kita terlihat seksi atau hidup penuh kemewahan, daripada mereka menutup aurat dengan rapi dan rajin datang kajian. Jadilah orang tua yang selalu siap menjadi penggandeng pertama anak-anak kita menuju Syurga.

2. Guru

Ketika anak-anak sudah memasuki usia sekolah, orang yang tentu menjadi urutan pertama mereka segani, bahkan kadang melebihi orang tua mereka sendiri adalah guru. Seorang guru memiliki andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter generasi muda bangsa, seorang guru diwajibkan memahami tanggung jawab yang dipikulnya, serta amanah besar yang tengah dia pikul, berusaha menjaga dengan baik murid didiknya agar terbentuk karakter yang kokoh dan akhlaq Islami yang baik.

guru muslim
guru muslim [via]
Namun, berbeda jika sang Guru melakukan sebuah tindakan tidak terpuji, asusila, atau justru melakukan kekerasan pada muridnya atau orang lain yang diketahui muridnya. Sudah pasti sang murid akan kehilangan respek atau rasa hormat dan bahkan tak sungkan mencontoh apa yang diperbuat gurunya tersebut.

Kita tentu masih ingat tentang kisah Rasulullah yang dengan begitu sabar dan tekun mengasuh anak berumur sepuluh tahun yang merelakan dirinya mengabdi sebagai pembantu Nabi, bernama Anas bin Malik ra. Rasulullah mengajarinya banyak hal, tentang ilmu agama, ilmu alam, ilmu perang, dan semua tentang kehidupan. Pantas saja, selama mendampingi Rasulullaah sekitar 10 tahun, Anas kemudian tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan memiliki ingatan yang kuat. Hal ini terbukti dengan banyaknya hadits Rasulullaah yang dia riwayatkan.

3. Tokoh/Figur Idola

Yang tak kalah penting dalam perkembangan karakter atau akhlaq Islami dari generasi muda adalah siapa tokoh idolanya. Jika tokoh idolanya adalah orang-orang yang suka membuat kerusakan, bisa dipastikan dia juga akan bertindak mencontohnya, yaitu membuat kerusakan. Namun jika tokoh idolanya adalah seseorang berakhlaq dan berilmu agama yang baik, maka dia juga akan termotivasi untuk menjadi seperti atau bahkan lebih baik dari idolanya tersebut.

ustad idola
ustad idola [via]
Sekarang ini banyak sekali sosok public figure baik dari kalangan selebritis, pejabat, olahragawan, dan sebagainya, yang terlibat skandal atau kriminal yang bisa menjadi contoh buruk bagi generasi muda. Untuk itulah, peran orang tua dan guru perlu ekstra lebih keras dalam memperkenalkan kepada anak-anak, siapa saja tokoh yang patut dijadikan idola. Dan tentunya, sebaik-baiknya idola adalah Rasulullaah SAW.

4. Teman

Tak bisa dipungkiri bahwa saat anak menginjak usia pertumbuhan, dia akan lebih semakin asyik bergaul bersama teman-temannya daripada dengan saudara atau orang tuanya. Karena teman-teman adalah orang yang akan membuat mereka merasa nyaman dalam berekspresi atau menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

teman sesama muslim
teman sesama muslim [via]
Nah, teman-teman adalah salah satu poin penting terbentuknya karakter atau akhlaq seseorang, termasuk generasi muda, apalagi di usia pertumbuhannya. Jika teman-teman sang anak adalah orang-orang yang baik maka anak-anak akan terdorong arus menuju dan mengerjakan kebaikan juga, pun sebaliknya jika teman-teman sang anak adalah orang-orang buruk maka sang anak akan terdorong arus pula dalam menuju dan mengerjakan keburukan pula.

Kisah yang bisa menjadi contoh dan teladan kita adalah ketika Abu Bakar ra, dengan segala harta yang dipunyainya berhasil membebaskan budak-budak yang diperlakukan dengan tidak adil oleh bangsawan-bangsawan Quraisy. Setelah dibebaskan, budak-budak itu yang diantaranya adalah Bilal bin Rabah ra, masuk Islam dan menjadi ahli Syurga. Mereka bergaul dengan Abu Bakar dan Rasulullah yang membuat keimanan mereka kepada Allah semakin kuat setiap harinya.

Itulah keempat orang-orang yang menjadi titik poin terpenting dalam pertumbuhan karakter atau akhlaq Islami seseorang, terutama para generasi muda Indonesia saat ini. semoga kita sebagai orang tua, guru, public figure atau tokoh masyarakat, dan seorang teman, mampu menempatkan diri kita dalam posisi terbaik, agar kita tak hanya memperbaiki diri namun juga mengajak orang-orang tercinta di sekitar kita untuk ikut menjadi baik. Aamiin.