7 Negara ini Suka Sekali Melakukan SENSOR Pada Medianya

Salah satu fungsi dari media baik elektronik mau pun cetak adalah menyampaikan segala fakta dengan berimbang kepada masyarakat. Sayangnya, tak semua negara mengizinkan alur informasi langsung ini. Ada negara yang sengaja melakukan sensor terhadap segala jenis berita yang ada, agar citra mereka di masyarakat selalu baik.

Di masa lalu, Indonesia juga pernah mengalami upaya sensor media seperti ini. Untungnya era itu telah runtuh dan berganti era kebebasan (meski media sekarang masih condong ke salah satu kubu). Di negara lain, kebebasan media seperti ini masih dikungkung. Bahkan jika ada media yang terbukti membelot akan dikenai hukuman. Inilah negara yang bisa kita juluki sebagai tukang sensor itu.

Korea Utara

Korea Utara adalah negara yang paling banyak melakukan sensor pada medianya. Bahkan semua berita yang beredar di media cetak dan TV harus masuk ke Korean Central News Agency terlebih dahulu. Baru setelah itu berita bisa diterbitkan dan dibaca masyarakat banyak.

Korea Utara [ Image Source ]
Korea Utara [ Image Source ]

Di Korea Utara, internet dan ponsel sangat dilarang. Namun penggunaannya untuk universitas dan sekolah diperbolehkan meski dengan pengawasan sangat ketat. Kim Jong-un ingin semua warganya tak mendapatkan berita dari luar, terlebih dari Korea Selatan.

Tiongkok

Tetangga yang berbatasan langsung dengan Korea Utara ini ternyata juga melakukan penyensoran di berbagai media. Paling parah yang dilakukan oleh Tiongkok adalah pemblokiran mesin pencari Google. Negeri ini tak mau segala di dunia terutama yang menjelek-jelekkan Tiongkok diketahui banyak orang.

Tiongkok [ Image Source ]
Tiongkok [ Image Source ]

Tiongkok ketiga dengan jumlah tahanan jurnalis paling banyak di dunia. Negeri ini membatasi apa saja yang dikeluarkan media agar tidak memancing kontroversi. Bahkan media asing yang akan bekerja di Tingkok selalu dipersulit masalah kepengurusan Visa-nya. Tiongkok benar-benar membuat apa yang terjadi di negerinya tersimpan rapi.

Arab Saudi

Arab Saudi adalah negara selanjutnya yang banyak melakukan sensor pada media. Negeri ini tidak memberikan kebebasan pada pers yang ingin melakukan kritik pada negara. Kritik yang dilontarkan sama halnya dengan melakukan tindakan kriminal. Bahkan hukumannya akan sangat berat.

Arab Saudi [ Image Source ]
Arab Saudi [ Image Source ]

Beberapa website di Arab Saudi juga terus diawasi, terutama Youtube. Pihak otoritas ingin mengawasi warganya agar tidak melakukan kejahatan atau melanggar hukum. Mereka memilih mengawai Youtube karena banyak warga sana yang menggunakan media ini untuk protes kepada pemerintah.

Iran

Iran adalah negara yang sangat gemar melakukan penangkapan pada jurnalis. Bahkan pada tahun 2009, negara ini memiliki tahanan jurnalis paling banyak di dunia. Keadaan ini membuat banyak jurnalis di negeri ini jadi membisu. Mereka takut menyuarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan pemerintah.

Iran [ Image Source ]
Iran [ Image Source ]

Selain menekan media hingga melebihi batas. Iran juga paling kuat dalam melakukan penyensoran pada internet. Setidaknya jutaan situs diblokir hingga sama sekali tak bisa diakses. Situs itu kebanyakan situs yang ada hubungannya dengan berita yang berasal dari seluruh dunia. Iran tak ingin warganya tahu terlalu banyak tentang situasi di luar sana.

Vietnam

Vietnam dikenal sebagai negara yang banyak sekali melakukan penyensoran terhadap konten pada medianya. Setiap berita yang keluar harus melalui lembaga tertentu agar tidak memberikan berita salah kepada masyarakat dan membuat rakyat di Vietnam menjadi gempar. Setiap minggu para editor berita selalu dikumpulkan untuk membahas topik apa saja yang dilarang dan harus ditulis (biasanya yang ada hubungannya dengan partai komunis).

Vietnam [ Image Source ]
Vietnam [ Image Source ]

Negeri yang pernah terbagi menjadi dua wilayah di masa lalu ini. Suka sekali memenjarakan jurnalis yang dianggap membangkang. Bahkan jumlah jurnalis yang dipenjara termasuk paling banyak di dunia. Pemerintah Vietnam tak ingin pers di negerinya memberi dampak negatif bagi kelangsungan rezim partai komunis di sana.

Ethiopia

Pemberedelan media di Ethiopia bisa dibilang sudah melampaui batas. Setidaknya jurnalis yang menulis berita dengan nada kritikan akan langsung dipenjara. Pemerintah selalu beralasan jika jurnalis itu hanya akan membuat banyak orang menjadi teroris dan protes dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah.

Ethiopia [ Image Source ]
Ethiopia [ Image Source ]

Ethiopia benar-benar membuat apa yang terjadi di negaranya tidak akan diketahui banyak orang. Itulah mengapa sensor ketat diberlakukan baik untuk media cetak atau pun eletronik. Berita-berita dari luar negeri bisa didapat dari kaum oposisi yang melakukan pembobolan sistem hingga tak bisa diblokir oleh pemerintah.

Kuba

Meski berada di kawasan Amerika, Kuba adalah salah satu negara yang tidak memperbolehkan adanya kebebasan pers. Segala hal yang terkait dengan berita harus melalui lembaga yang dikuasai oleh partai komunis setempat. Dengan begitu berita yang keluar tidak akan merugikan Kuba secara langsung.

Kuba [ Image Source ]
Kuba [ Image Source ]

Segala bentuk situs terutama yang berisi kritikan akan diblokir oleh pemerintah. Untuk mendapatkan akses internet yang bebas sensor, seorang jurnalis harus pergi ke hotel atau kedutaan besar negara lain. Menyuarakan kebebasan di Kuba sama halnya dengan melakukan kejahatan dan patut dipenjara.

Inilah tujuh negara yang suka sekali melakukan sensor kepada pers atau medianya. Bagaimana menurut anda dengan media di Indonesia? Apakah sensor yang dilakukan oleh pemerintahan negeri ini sudah benar? Misal sensor baju kebaya dan juga pelarangan segala bentuk cross dress di stasiun TV.